Re union Skot79 2010

Alhamdulillah pada malam ini seramai 20 orang ahli Skot79 telah menghadiri sambutan reunion Skot79 di Restoran Tom yam barakat port Dickson. suasana sambutan pada malam ini amat meriah dan berlangsung dengan penuh mahabbah. tahniah diucapkan kepada semua ahli skot 79 yang telah memberi sokongan...

Taubat Dari Suatu Dosa Sambil Tetap Melakukan Dosa Yang Lain

Dr. Yusuf al Qardhawi
Di antara pertanyaan yang penting yang menuntut untuk dijawab dan dijelaskan hukumnya di sini adalah pertanyaan: apakah taubat dari suatu dosa sah, jika sambil tetap melakukan dosa yang lain?
Dalam hal ini ada dua pendapat ulama, dan keduanya adalah dua riwayat dari imam Ahmad. Orang yang mengatakan di situ ada ijma', tidak mengetahui ikhtilaf pendapat yang terjadi, seperti an-Nawawi yang berpendapat lain dan ulama lainnya.
Abu Thalib al Makki dalam kitabnya "Qutul Qulub" meriwayatkan pendapat berikut ini dari beberapa ulama: orang yang telah taubat dari sembilan puluh sembilan dosa, namun ia tidak bertaubat dari satu dosa, maka ia menurut kami bukan kelompok orang yang bertaubat" [Qutul Qulub: 1/191]
Imam Ibnu Qayyim berkata: Masalah ini pelik, dan memiliki kerumitan tersendiri. Namun perlu memilih salah satu pendapat itu dengan diperkuat oleh dalil. Mereka yang mengabsahkan taubat seperti itu berdalil bahwa keislaman seseorang jelas sah --dan keislaman itu adalah taubat dari kekafiran-- meskipun ia masih tetap melakukan maksiat yang ia belum bertaubat darinya. Maka demikian pula halnya dengan taubat dari suatu dosa sambil masih tetap melaklukan dosa yag lain.
Sedangkan kelompok ulama yang lain berkata: keislaman itu lain masalahnya dari yang lain, karena kekuatannya, serta keislaman itu dapat terjadi --dengan keislaman kedua orang tuanya atau salah satunya-- bagi anak kecil.
Sementara kelompok ulama yang lain lagi berdalil, bahwa taubat itu adalah kembali kepada Allah SWT dari melanggar aturan-Nya menuju ketaatan-Nya. Maka bagaimana ia dapat dikatakan kembali jika ia hanya taubat dari satu dosa, sementara masih terus melakukan seribu dosa lainnya?
Mereka berkata: Allah SWT tidak menghukum orang yang telah bertaubat karena orang itu telah kembali kepada ketaatan dan penghambaanNya, serta telah taubat dengan taubat nasuha. Sedangkan orang yang masih terus melakukan dosa lain yang sejenisnya --atau malah lebih besar lagi-- tidak dapat dikatakan telah kembali kepada ketaatan, dan tidak pula telah taubat dengan taubat nasuha.
Mereka berkata: karena orang yang bertaubat kepada Allah SWT, darinya telah hilang cap "pelaku maksiat", seperti orang kafir ketika ia masuk Islam yang hilang cap "kafir" itu darinya. Sedangkan orang yang tetap melakukan dosa lain selain dosa yang ia mintakan taubat itu, maka cap "maksiat" masih tetap melekat padanya, sehingga taubatnya tidak sah. Rahasia masalah ini adalah: taubat itu memiliki macam-macam bagian, seperti kemaksiatan, sehingga ia dapat taubat dari satu segi, tidak pada segi lainnya, seperti antara keimanan dengan keislaman
Pendapat yang kuat adalah: taubat itu dipecah-pecah, seperti perbedaan dalam pelaksanaannya. Demikian juga dalam jumlahnya. Maka jika seorang hamba telah menjalankan suatu kewajiban dan meninggalkan kewajiban yang lain, ia akan menerima hukuman atas yang ditinggalkan itu tidak atas kewajiban yang telah dilakukannya. Demikian juga halnya orang yang telah bertaubat dari satu dosa dan tetap melakukan dosa yang lain. Karena taubat adalah kewajiban dari dua dosa. Maka ia telah melakukan satu dari dua kewajiban dan meninggalkan yang lain. Sehingga apa yang ditinggalkannya tidak membuat batal apa yang telah dikerjakannya. Seperti orang yang tidak melaksanakan hajji, namun menjalankan shalat, puasa dan zakat.
Kelompok yang lain berkata: taubat adalah satu pekerjaan. Maknanya adalah meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah SWT serta menyesal dari perbuatannya yang buruk, dan kembali kepada ketaatan kepada Allah SWT. Maka jika ia tidak melengkapinya, taubatnya itu tidak sah, karena ia adalah satu kesatuan ibadah. Maka melaksanakan sebagian taubat sementara meninggalkan taubat yang lain adalah seperti orang yang melakukan sebagian ibadah dan meninggalkan bagian lainnya. Dan ikatan bagian-bagian suatu ibadah satu sama lain lebih kuat dari ikatan ibadah-ibadah yang bermacam-macam, satu sama lain.
Dan kelompok yang berpendapat lain berkata: setiap dosa memiliki taubat yang khusus baginya, dan taubat itu wajib dilakukannya. Namun taubat itu tidak berkaitan dengan taubat dari perbuatan lainnya. Seperti tidak ada kaitan antara satu dosa dengan dosa lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: menurutku dalam masalah ini adalah: suatu taubat atas suatu dosa tidak sah jika orang itu tetap menjalankan dosa lainnya yang sejenis. Sedangkan taubat dari satu dosa sambil masih melakukan dosa lain yang tidak mempunyai hubungan dengan dosa pertama, juga bukan dari jenisnya, taubat itu sah. Seperti orang yang bertaubat dari riba, dan belum bertaubat dari meminum khamar misalnya. Karena taubatnya dari riba adalah sah. Sedangkan orang yang bertaubat dari riba fadhl, kemudian ia tidak bertaubat dari riba nasi'ah dan terus menjalankan riba ini, atau sebaliknya, atau orang yang taubat dari menggunakan obat bius dan ia masih tetap minum minuman keras, atau sebaliknya, maka taubatnya ini tidak sah. Ini adalah seperti orang yang bertaubat dari berzina dengan seorang wanita, namun ia masih tetap berzina dengan wanita-wanita lainnya, maka tidak sah taubatnnya. Demikian juga orang yang bertaubat dari meminum juice anggur yang memambukkan, namun ia masih terus meminum minuman lainnya yang memabukkan juga, maka orang ini sebetulnya belum bertaubat. Namun ia hanya bnerpindah dari satu macam ke macam lainnya.
Berbeda dengan orang yang meninggalkan satu jenis maksiat, sambil menjalankan maksiat jenis lainnya. Karena dosanya lebih ringan, atau karena dorongannya baginya lebih kuat, serta kekuatan syahwat untuk melakukan itu amat kuat baginya atau juga faktor-faktor yang mendorongnya untuk terus melakukan itu masih tetap ada, tidak perlu dicari. Berbeda dengan maksiat yang butuh dicari dahulu perangkatnya untuk mengerjakannnya, atau juga karena teman-temannya memilikinya, dan mereka tidak membiarkannhya untuk bertaubat darinya, dan ia memiliki kehormatan di hadapan mereka, maka jiwanya tidak membiarkannya untuk merusak penghormatan mereka atasnya itu dengan melakukan taubat [Madarij Salikin: 1/273-275]
Pendapat yang aku pilih dalam masalah ini adalah: seluruh orang yang bertaubat dari suatu dosa dengan taubat yang benar, maka diharapkan Allah SWT menerima taubatnya, dari dosa itu. Meskipun ia masih terus menjalankan dosa yang lain. Barangsiapa yang bertaubat dari perbuatan kaum Luth (homoseksual) dengan benar, niscaya Allah SWT akan menerima taubatnya, meskipun ia masih berat untuk bertaubat dari zina. Orang yang bertaubat dari riba nasi'ah, maka Allah SWT akan menerima tabatnya, meskipun ia masih menjalankan riba fadhl. Atau ia taubat dari ghibah (menceritakan keburukan orang) dan namimah (mengadu domba), meskipun ia masih sering menghina orang, berbohong ketika bicara atau dosa lidah lainnya.
Taubat itu sah karena taubat pada dasarnya adalah hasanah (kebaikan), bahkan kebaikan yang besar. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar" [an Nisa: 40]
Kemudian Allah SWT berjanji akan menerima taubat hamba-hamba-Nya secara umum. Dan tidak mengkhususkan satu dosa dari dosa lainnya. Seperti dalam firman Allah SWT:
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan" [QS. asy-Syuura: 25].
Orang ini telah bertaubat dari dosanya, dan ia berhak untuk diterima taubatnya oleh Allah SWT dan dimaafkan.
Kemudian ini cocok dengan keluasan rahmat dan maghfirah Allah SWT yang mencakup seluruh orang yang berdosa dan seluruh orang yuang bertaubat. Seperti firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa seluruhnya".
Kemudian itu juga akan mengobati kelemahan manusia, dan menuntunnya secara bertahap, dan membuka kesempatan baginya meningkat setahap demi setahap. Sehingga ia dapat meninggalkan maksiat sedikit demi sedikit, dan dari satu fase ke fase selanjutnya. Hingga pada akhirnya Allah SWT memberikan hidayah kepadanya untuk meninggalkan seluruh kemaksiatan itu. Dalam hadits sahih disabdakan:
"Kalian diutus hanya untuk memberi kemudahan dan tidaklah kalian diutus untuk membuat kesulitan".
Pendapat yang mengatakan diterimanya taubat seseorang yang taubat ketika ia masih berbuat dosa lagi, dan ia kemudian kembali bertaubat, didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Seorang hamba melakukan dosa, dan berdo'a: Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa maka ampunilah aku. Tuhannya berfirman: hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dan menghapus dosanya, maka Aku ampuni hamba-Ku itu. Kemudian waktu berjalan dan orang itu tetap seperti itu hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga orang itu kembali melakukan dosa yang lain. Orang itupun kembali berdo'a: Ya Tuhanku, aku kembali melakukan dosa, maka ampunilah dosaku. Allah SWT berfirman: Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya, maka Aku ampuni hamba-Ku itu. Kemudian ia terus dalam keadaan demikian selama masa yang ditentukan Allah SWT, hingga akhirnya ia kembali melakukan dosa. Dan ia berdo'a: Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa, maka ampunilah daku. Allah SWT berfirman: Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya. Maka Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku, (diulang tiga kali) dan silahkan ia melakukan apa yang ia mau" [Hadits Muttafaq alaih: lihat: al Lu'lu wa al Marjan (1754) dan lihatlah: Fathul Bari juz 13 hal. 46 dan setelahnya].
Al Qurthubi berkata dalam kitabnya "al Mufhim fi syarhi Muslim": Hadits ini menunjukkan kebesaran faedah istighfar, dan keagungan nikmat Allah SWT, keluasan rahmat-Nya serta sifat pemaaf dan pemurah-Nya. Namun istighfar ini adalah permohonan taubat yang maknanya tertanam dalam hati sambil diiringi dengan ucapan lidah, sehingga ia tidak lagi menjalankan dosa itu, dan ia merasa menyesal atas perbuatan masa lalunya. Sehingga itu adalah ungkapan praktekal atas taubat. Seperti dikatakan oleh hadits: orang yang paling baik dari kalian adalah setiap orang yang terfitnah (sehingga melakukan dosa) dan sering bertaubat". Maknanya: yaitu orang yang terulang dosanya dan mengulang taubatnya. Setiap kali ia jatuh dalam dosa ia mengulang taubatnya. Bukan orang yang berkata dengan lidahnya: aku ber istighfar kepada Allah SWT, namun hatinya masih terus ingin menjalankan maksiat itu. Inilah istighfar yang masih membutuhkan kepada istighfar lagi!
Al Hafizh ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari ketika memberi komentar atas hadits itu, sebagai berikut: hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari hadits Ibnu Abbas secara marfu':
"Orang yang bertaubat adalah seperti orang yang tidak mempunyai dosa, dan orang yang meminta ampunan dari dosa, sementara ia masih tetap melakukan dosa, adalah seperti orang yang mengejek Tuhannya".
Ia berkata: yang rajih adalah: redaksi dari "wal mustaghfir... hingga akhirnya, adalah mauquf. Atau dari perkataan Ibnu Abbas, bukan hadits Nabi. Yang pertama menurut Ibnu Majah dan Thabrani, dari hadits Ibnu Mas'ud. Dan sanadnya hasan.
Al Qurthubi berkata: faedah hadits ini adalah: kembali berbuat dosa adalah lebih buruk dari ketika pertama kali melakukan dosa itu, karena dengan kembali berdosa itu ia berarti melanggar taubatnya. Tapi kembali melakuian taubat adalah lebih baik dari taubatnya yang pertama, karena ia berarti terus meminta kepada Allah SWT Yang Maha Pemurah, terus meminta kepada-Nya, dan mengakui bahwa tidak ada yang dapat memberikan taubat selain Allah SWT.
Imam an Nawawi berkata: dalam hadits itu, suatu dosa --meskipun telah terulang sebanyak seratus kali atau malah seribu dan lebih-- jika orang itu bertaubat dalam setiap kali melakukan dosa-- niscaya taubatnya diterima, atau juga ia bertaubat dari seluruh dosa itu dengan satu taubat, maka taubatnya juga sah. Dan redaksi: "perbuatlah apa yang engkau mau" -- atau "Maka silakan ia berbuat apa yang ia mau" - maknanya: selama engkau masih melakukan dosa maka bertaubatlah, niscaya Aku akan ampuni dosamu" [Lihat: Fathul Bari: 14/ 471. Cetakan: Darul Fikr al Mushawirah An Salafiyah]
Benar, taubat yang sempurna adalah taubat dari seluruh dosa. Dan itulah yang akan membawa kepada keberuntungan yang disinyalir dalam firman Allah SWT:
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" [QS. an-Nur: 31]
Taubat seperti itulah yang akan menghapus seluruh keburukan, dan menghilangkan seluruh dosa, dan orangnya akan masuk dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari Allah SWT tidak mengcewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya.
Inilah yang akan menarik cinta Allah SWT kepadanya, juga kesenangan dan senyum-Nya terhadap mereka.
Juga taubat yang sempurna adalah taubat yang tidak hanya mencegah orang itu untuk kembali melakukan maksiat saja, namun ia adalah taubat yang mendorongnya untuk melakukan ketaatan, menjalankan perbuatan yang saleh, serta mematuhi hukum-hukum syari'ah dan adab-adabnya, secara zahir dan bathin, antara dia dengan Rabbnya, antara dirinya dengan dirinya sendiri, serta antara dirinya dengan seluruh makhluk. Sehingga ia dapat mencapai keberuntungan di dunia dan akhirat, dan mendapatkan kemenangan surga serta selamat dari neraka.
Oleh karena itu, kita harus membedakan antara taubat yang menyeluruh yang akan mengantarkan orang itu kepada kemenangan mendapatkan surga dan selamat dari neraka, dengan taubat yang parsial yang memberikan keuntungan kepada orang yang taubat itu serta membebaskannya dari suatu dosa tertentu, meskipun ia tetap terikat dengan dosa yang lain. Kedua macam taubat itu mempunyai ketentuan hukumnya masing-masing.

Renungan Untuk Skot79

Tajdid Sebagai Strategi Dakwah PDF Print E-mail

Oleh: Datuk Mohd.Nakhaie Ahmad.
YDP YADIM

Kertas kerja ini dibentangkan di Kursus Kepimpinan Perdana di Malaysian Hall, Abbasiah, Kaherah pada 15 & 16 November 2005.

Perubahan adalah sunnatullah, yakni peraturan dan hukum perjalanan alam yang dicipta oleh Allah s.w.t. mengikut kuasa dan kehendakNya Yang Maha Suci. Alam dan semua perkara yang terdapat di dalamnya, sentiasa terdedah kepada perubahan. Tetapi, apakah yang berubah dan bagaimana perubahan itu berlaku? Tentunya, dengan adanya kebelbagaian dalam alam ciptaan Allah s.w.t. ini, tidak mungkin kita memberikan jawapan menyeluruh kepada persoalan ini. Dalam hubungan ini, saya hanya akan menumpukan kepada perubahan yang berlaku dalam agama Islam dan beragama, yakni dalam aspek yang melibatkan interaksi antara pemeluk agama Islam dengan ajaran-ajaran Islam yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah.
Perubahan dalam agama.

Yang amat nyata di dalam agama Allah s.w.t. sejak Adam sehingga rasul terakhir iaitu Nabi Muhmmad s.a.w. perubahan belaku dalam syari’at yang diturunkan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus. Tetapi tidak berlaku perubahan agama dalam aspek akidah di mana semua nabi-nabi dan rasul-rasul membawa risalah tauhid dan mengajak manusia supaya beribadah kepada Tuhan Yang Satu. Tetapi di dalam syariat, berlaku perubahan yang nyata. Syariat yang diturunkan kepada rasul-rasul itu tidak sama dan berubah-ubah di kalangan rasul-rasul itu.
Satu lagi dimensi yang perlu diperhatikan, terdapat hubung-kait antara agama Islam dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, dengan sunnatullah yang merupakan hukum-hukum dan peraturan yang menguasai perjalanan semulajadi ala mini. Tetapi hukum-hukum yang terkandung di dalam sunnatullah tidak berubah. ولن تجــد لســنة اللـه تبــديلا ( Kamu tidak akan dapati pergantian bagi sunnatullah itu) Bagaimana pun, hukum-hukum Allah s.w.t dalam sunnatullah itu , walaupun tidak berubah, tetapi boleh disusun semula, menerusi keupayaan yang diberikan oleh Allah s.w.t. dalam ilmu pengetahuan. Bahan-bahan yang terdapat di dalam alam ini, boleh disusun semua, umpamanya disusun kadarnya, dikaji dan difahami susunan DNA dan disusun kembali susunannya. Bahan-bahan yang disusun berubah menjadi benda baru. Bahan-bahan dan unsur-unsur yang terdapat di dalam alam ini boleh dicerakinkan dan disusun kembali bagi menghasilkan benda yang baru. Ini juga menjadi sebahagian daripada sunnatullah. Alam ini, ditentukan oleh Allah sebagai sesuatu yang boleh difahami dan diolah kembali. Ia boleh dibangunkan dan dikembangkan dengan pengetahuan dan usaha gigih manusia. Keadaan alam seperti itu, membolehkan ia dibangunkan. Sedangkan pembangunan bumi ini menjadi salah satu tugas manusia sebagai khalifah.
Realiti yang disebutkan itu, menunjukkan betapa pentingnya perubahan. Oleh kerana perubahan adalah penting, manusia mesti menanganinya dan mengurus perubahan itu dengan bijaksana. Dalam hal yang melibatkan agama dan beragama, terdapat dimensi agama dan beragama yang tetap dan yang berubah atau berkembang. Ajaran agama yang berkaitan dengan keimanan terhadap kewujudan Allah Yang Maha Esa, terdapat di dalam, dimensi tetap dan dimensi yang berubah dan berkembang. Kemestian beriman kepada wujudnya Allah Yang Maha Esa, tidak berubah. Tetapi keyakinan terhadap kewujudan itu berubah. Sebagaimana saranan di dalam ilmu Tauhid, bahawa iman itu bertambah dan berkurang. Namun apa jua status keimanan itu, kemestian beriman kepada Allah adalah suatu yang tetap dan tidak berubah.
Di dalam contoh yang disebutkan tadi, kemestian beriman kepada Allah itu adalah merupakan dimensi agama yang tidak berubah-ubah dan tetap sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam al-Quran. Tetapi keyakinan manusia terhadap ajaran mengenai kewujudan Tuhan itu adalah dimensi beragama yang terdedah kepada perubahan. Sama ada perubahan itu terarah menuju kekuatan iman atau kekurangannya.

Agama dan Beragama
Agama dan beragama, merupakan realiti yang berlainan, tetapi mempunyai hubung-kait yang sangat erat. *Agama Islam ialah ajaran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang terkandung di dalam al-Quran dan Sunnah baginda yang sahih. Tiada sesiapa pun yang boleh membuat pindaan datau perubahan ke atas ajaran tersebut. Sesuatu rekaan dan ciptaan yang dilakukan ke atas al-Quran dan Sunnah yang bukan daripadanya adalah ditolak. من أحــدث في أمـرنا هذا ما ليس منــه فهــو رد ( Sesiapa yang mencipta dalam perkara kami ini yang bukan daripadanya, adalah ditolak) فويل للذين يكتبون الكتاب بأيديهم ثم يقولون هـذا من عند الله ليشتروا به ثمنا قليلا فويل لهم مما كتبت أيديهم وويل لهم مما يكســبون ( Maka malanglah bagi mereka yang menulis kitab dengan tangan mereka,kemudian mereka berkata ini adalah daripada Allah, untuk mereka menjualnya dengan harga yang murah dan membawa malang kepada mereka daripada apa yang mereka tuliskan itu dan daripada apa yang mereka perolehi daripadanya.)
Kita tidak berhak untuk mengubah dan meminda karangan orang daripada mana-mana buku sekalipun, supaya sesuai dengan kehendak kita. Apa lagi untuk meminda atau menokok tambah wahyu yang diturnkan oleh Allah kepada rasul-Nya atau meminda apa yang telah sah bagi perbuatan, perkataan dan pengakuan Nabi atau Sunnah baginda, untuk disesuaikan dengan kehendak dan pemikiran kita.
Tetapi beragama dengan agama itu merupakan dimensi lain, yakni dimensi hubungan dan interaksi manusia dengan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama itu. Bagaimanakah manusia memahami ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al-Quran dan Sunnah dan bagaimana mereka menghayatinya dalam kehidupan mereka mengikut arahan-arahan yang terkandung di dalamnya sebagaimana yang difahami oleh mereka. Inilah dimensi beragama yang melibatkan kerja manusia yang ditaklifkan oleh Allah s.w.t. mengikut keupyaan. لايكلف الله نفسـا إلا وســعها ( Allah tidak menyaklifkan ke atas seseorang melainkan mengikut keupayaannya.
Oleh kerana tahap keilmuan manusia tidak sama dan kaedah serta manhaj bagi memahami ajaran-ajaran al-Quran juga turut berbeza, maka kefahaman manusia terhadap ajaran-ajaran itu mungkin berbeza. Bahkan, kemungkinan kefahaman itu, mungkin jelas untuk sesuatu zaman dan tidak sesuai dengan zaman yang lain. Justeru, dimensi beragama, bukanlah sesuatu yang tetap buat selama-lamanya. Ia terdedah kepada perubahan. Bahkan ia memerlukan perubahan.
Dimensi beragama, tidak memiliki sifat kesucian. Tidak sebagaimana status al-Quran dan Sunnah yang sahih. Justeru, kefahaman mengenai nas itu, terdedah kepada pembaharuan dan dibuat penyesuaian selaras dengan perubahan tempat dan zaman untuk memelihara masalah dan tujuan-tujuan syari’at. Bagaimana pun, keperluan pemahaman dan pembaharuan kepada ilmu pengetahuan adalah suatu yang suci yang tidak boleh diubah atau dipinda. Ini ialah kerana keperluan tersebut ditentukan oleh agama yang metelatakkanya pada status kesucaian, walaupun keilmuan manusia itu tidak mutlak. Nmun, ia diterima sebagai separa mutlak, jika sesuatu kefahaman terhada nas yang berdasarkan ilmu itu mencapai tahap ijmak di kalangan para ilmuwan mujtahid. Memang benar bahawa agama itu sesuatu yang sempurna, tetapi ketidak-kesempurnaan dalam beragama adalah sesuatu yang lumrah bagi manusia, Tetapi ketidak-sempurnaan itu sentiasa diimbangi oleh keampunan Allah s.w.t.
Sifat-sifat integriti sebagai ilmuwan, perlu ada bagi membina kefahaman lebih kukuh mengenai nas itu sehingga mampu menempatkan dimensi beragama itu berada dalam keadaan mantap. Membina sifat-sifat itu bukan di luar jangkauan manusia, jika ia tidak dikuasai hawanafsu. Kekuatan iman, ilmu dan mujahadah di dalam pembinaan dan pembentukan sifat-sifat kemuliaan sebagai ilmuwan, adalah seseuatu yang tidak boleh diabaikan oleh setiap ilmuwan. Bahkan untuk mencapai tahap keintelektualan yang tinggi sebagai ilmuwan Islam, seseorang mestilah memiliki integriti yang dimiliki oleh para ulul al-bab. Mereka mestilah seorang yang mematuhi perjanjian dengan Allah s.w.
Agama, beragama dan budaya
Dimensi beragama yang terpancar daripada ajaran agama, dengan apa jua tahap kefahamannya dan diamalkan oleh masyarakat yang menerimanya sehingga menjadi sebati dalam kehidupan masyarakat itu, pastinya menjadi budaya masyarakat itu. Dengan peerkataan lain, ajaran agama sebagaimana yang difahami oleh sesuatu masyarakat dan mengamalkannya sehinggi menjadi sebati dengan kehidupan masyarakat itu, telah membentuk atau mempengaruhi corak budaya masyarakat itu.
Tetapi ,Islam tidak muncul di dalam persekitaran yang bebas budaya. Di semenanjung Arabia, di mana Islam itu diturunkan, masyarakat Arab telah memiliki suatu budaya yang dinamakan dalam Islam sebagai budaya jahiliah. Di dunia Melayu, sebelum kedatangan Islam, telah wujud budaya yang dipengaruhi ajaran agama Hundu dan animism. Dalam dunia Melayu, ini kehidupan masyarakatnya dibentuk oleh bentuk beragama dan warisan budaya masyarakat Melayu. Kehidupan masyarakat Melayu dibentuk berdasarkan kepada bagaimana masyarakat ini berinteraksi dengan ajaran al-Quran dan Sunnah dan diwaktu yang sama pembentukan itu turut dipengaruhi oleh warisan budaya yang masih diamalkan dalam masyarakat tersebut.
Faktor budaya turut memainkan peranan penting dalam mencorak kehidupan beragama di rantau ini. Dengan perkataan lain, kehidupan umat Islam di alam Melayu, tidak hanya dibentuk oleh kekuatan bergama, tetapi juga oleh pengaruh budaya yang diwarisi di zaman Hindu dan anamisma. Kita juga tidak harus lupa bahawa akibat kekalahan di tangan penjajah Barat, dan dinamika budaya itu sendiri, maka budaya Barat turut memainkan peranan dalam mencorak kehidupan masyarakat Islam di seluruh dunia.
Ajaran Islam yang telah dibudayakan dalam kehidupan orang Melayu, bercampur baur dengan amalan budaya warisan yang masih dihayati dalam kehidupan orang-orang Melayu, dan pengaruh budaya lain yang turut diterima dalam kehidupan orang-orang Melayu, pembentuk sebenar acuan kebudayaan bangsa Melayu.
Tajdid Sebagai Strategi
Bagi mengatur strategi dakwah yang berkesan, perancang dakwah mestilah memahami latarbelakang budaya orang-orang Melayu seperti ini. Tujuan dakwah di kalangan orang-orang Melayu yang telah pun beragama Islam, semestinya berlainan dengan tujuan berdakwah di kalangan orang-orang Cina yang belum menganut agama Islam. Bagaimana pun latarbelakang budaya mereka perlu difahami untuk mengembangkan dakwah di kalangan mereka.
Tujuan dakwah di kalangan orang-orang Melayu ialah untuk mengfkuhkan kefahaman dan penghayatan mereka terhadap ajaran Islam. Sehingga mereka menjadi tonggak kepada perjuangan Islam di negara kita. Oleh kerana kedudukan orang Melayu sekarang ini adalah tonggak kekuatan polirik negara kita, pengangan dan penghayatan yang kuat terhadap Islam di kalangan mereka, akan mempengaruhi dasar-dasar negara dan akan menentukan hala-tujua negara ke arah pembangunan yang berterasakan Islam.
Latarbelakang budaya masyarakat Melayu, dan bentuk budaya bangsa Melayu seperti yang ada sekarang ini perlukan kepada perubahan. Perubahan yang pengaruhi dan digerakkan oleh dakwah, pastinya akan memberi kesan ke arah mengukuhkan nilai-nilai Islam yang akan menjadi teras kepada pembentukan peribadi dan jatidiri orang-orang Melayu.
Untuk itu, gerakan dakwah perlu menggerakkan tajdid dan pembaharuan dalam beragama di kalangan orang-orang Melayu supaya mereka beragama secara lebih dinamik dan sesuai dengan tuntutan dan keperluan semasa. Sebagaimana yang telah ditegaskan bahawa beragama, bukanlah mempunyai kesucian sebagaimana yang terdapat di dalam agama itu sendiri. Walaupun di dalam menilai sesuatu bentuk penghayatan beragama itu, perlu dilaksnakan dengan berhati-hati dan menghormati ilmu sebagai sesuatu yang memiliki nilai-nilai kesucian, namun tajdid di dalam beragama dan perubahan di dalamnya perlu dilakukan bagi mengekalkan dinamika beragama itu.
Kefahaman terhadap ajaran agama tidak boleh diterima sebagai sesuatu yang telah ditinkan dan sedia untuk dimasak dan dimakan. Dinamika dalam pemahaman agama, ialah bahawa agama diterima sebagai cahaya, yang makin jauh, makin luas pancaran cahayanya. Ia hendak diterima dan difahami sebagai petunjuk yang memberi cahaya penyelsaian kepada semua masalah kehidupan yang sentiasa berubdah dan berkembang. Kita seharusnya memahami dengan mendalam persoalan semasa yang tidak selamanya sama dengan persoalan zaman dahulu, dan mencari petunjuk untuk penyelsaian persoalan semasa itu, mengikut kaedah dan cara yang mapan dengan persoalan masa kini yang dihadapi. Sudah tentulah sukar bagi kita menyelsaikan isu pemindahan organ, sekiranya kita merujuk kepada kaaedah kefahaman di zaman Imam al-Syafie yang belum berhadapan dengan masalah seperti itu, berdasarkan kepada kemajuan sains di zaman ini. Dalam hal ini kefahaman mengenai petunjuk agama memerlukan perubahan bagi menangani isu pemindahan organ. Ini hanyalah satu daripada contoh-contoh di mana pendekatan bagi menghayati petunjuk agama itu memerlukan perubahan.
Bagi menggerakkan tajdid yang berkesan, penyelidikan dan pembangunan adalah sangat diperlukan supaya sesuatu persoalan difahami secara mendalam dan kajian mengenai penyelsiannya dianalisa secara menyeluruh supaya isu yang berkaitan dapat dicari penyelsaiannya secara berkesan.
Pendakwah di zaman ini tidak lagi mapan dengan hanya kebolehan berpidato atau berceramah. Tetapi pendakwah zaman ini adalah penyelidik dan penggerak kepada penyelsaian masalah semasa secara praktis. Ia memerlukan kemahiran dan kebijaksanaan sebagai pendakwah dan sekali-gus penyumbang kepada pembinaan tamadun yang dibentuk berasaskan acuan Islam.

Khairi Dipilih Tok Penghulu ke3 Skot79



Skot79 mengucapkan tahniah kepada Kapt Hj Mohd Khairi Awang diatas kemenangan beliau dalam pilihanraya Penghulu Skot79 ke3. Semoga amanah yang diberikan dapat dipikul dengan jayanga...

Luahan Rasa Bekas Calon Penghulu 2010

Salam Sahabat Seperjuangan.Bercakap Soal Ketenangan. Ianya harus dihubungkaitkan dengan senario "Waqi'" yang ada di hadapan kita. Amalan menjadi teras dan penanda aras kepada pengetahuan yang sedia ada. Ini kerana Ilmu dan Pengetahuan semua ada...Tetapi jika tidak dimulakan dengan satu langkah...maka ianya akan tinggal dogengan semata-mata. Lidah sejak azali sifatnya, lembut dan mudah berbicara. Tangan jari jemari diatas sifatnya, mudah dan senang untuk meninta sebarang ayat...Tetapi Tuan-Tuan...Tubuh badan ini, atas sifatnya..yang liat amat berat untuk melaksanakan apa yang kebaikan dan kebajikan tercetus diminda dan benak fikiran Insan. Fikir-Fikirkanlah Bersama Dan Selamat Mengatur Langkah Pertama Ke Arah Perubahan.

Al-Akh Azlisham 3 RAMD Sabah

Tok Kenali Lagi..Setuju yang amat sangat apa yang diperkatakan..kadang-kadang ketenangan akan menjelma apabila datangnya dugaan dan ujian...kadangkala..keferasan kadang-kadang terzahir ketika tiada kepuasan..so carilah ketenangan yang sejati dengan menrima segala ujian..Insya Allah...kejayaan dan ketanagan dari Yang Maha Besar akan menjelma..cuma masa dan keadaan yang akan menentukan..bersabarlah..wahai sahabatku....

Jemputan Dining Out Skot79

Salam Skot79...Dimaklumkan bahawa Majlis Dining Out Skot79 akan diadakan pada seperti berikut:

  • Tempat : Akan Dimaklumkan...
  • Tarikh : 14 April 2010 ( Rabu)
  • Masa : 2000
  • Bayaran : Sponsored By Hamba Allah

Aturcara adalah seperti berikut:

  • 2000 - Semoa Skot79 berkumpul
  • 2010 - Ketibaan Tetamu kehormat
  • 2015 - Jamuan Bermula
  • 2100 - Ucapan Presiden Lamo & Baru
  • 2115 - Ucapan Ahli Yang Diraikan
  • 2125 - Ucapan Tetamu Kehormat
  • 2139 - Penyampaian Cenderahati
  • 2150 - Boleh Blahhhh la...

Senarai Ahli Yang Diraikan:

  1. YB Kapt Dato Mohd Johari Hussin AL-Umnoi(B)
  2. YBHG Kapt Rosdin Abbas AL-Kontraktori (B)
  3. YBHG Kapt Darul Naim AL-Ponggohi (B)
  4. YBHG Kapt Saipol Azani AL-Poligami (B)
  5. YBHG Kapt Ab.Rahman AL-Lembuuti (SJ)
Skot79.
Semoga kalian berada dalam situasi yang menyenangkan tak kira walau dimana saudara berada. bagi mereka yang sedang berada di perbatasan... Azlisham dan beberapa orang sahabat yang lain... tabahkan semangat! Semoga pengorbanan saudara mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Apa yang penting... biarlah badan penat asalkan hati tenang. Betul tak kawan-kawan. Bercakap soal ketenangan di sini ana ingin kongsikan beberapa patah buah fikiran untuk renungan kita bersama...

Ketenangan Bertakhta dalam hati Yang Bersih

•Ketenangan jiwa adalah merupakan satu nikmat yang tidak ternilai harganya. Dalam mencari ketenangan jiwa berbagai cara telah dilakukan oleh manusia untuk mencapainya. Ada dikalangan kita yang mencari ketenangan melalui hiburan seperti menyanyi, berkaroke, berdansa dan berdisko. Ada juga yang mencari ketenangan dengan melakukan aktiviti seperti beriadah, yoga, melancong dan menyendiri. Tak kurang juga yang mencari ketenangan jiwa melalui bacaan Al Quran, berzikir, bersolat dan bertafakkur. Pokok pangkalnya apa yang dicari adalah ketenangan bagi jiwa.

•Apabila jiwa tenang hidup akan terasa bahagia. Bagi yang memperolehi kebahagiaan hidup segala cubaan kehidupan dapat dilalui dengan senang. Jika jiwa berserabut kehidupan akan menjadi sesuatu bebanan. Pada masa itu harta yang banyak suidah tidak bernilai, pangkat dan kedudukan sudah menjadi bebanan dan tekanan.

•Untuk mendapatkan ketenangan kita mesti menyediakan tempat untuk ia tumbuh. Kalau pohon disemai diladang, binatang diternak di kandang, manusia dikandung di rahim maka ketenangan tempatnya adalah di hati. Hati adalah tempat tumbuhnya ketenangan. .

•Ketenangan tidak akan datang sekiranya tempat tumbuhnya tidak dijaga. Hati yang dipenuhi oleh kedengkian, kemarahan, dendam kesumat, buruk sangka, irihati tidak memungkinkan untuk ketenangan yang dicari itu bisa tumbuh dan subur.

•Jika mahu hati disinari ketenangan maka segala halangan yang menyekat tumbuhnya ketenangan itu perlu dibersihkan.•Untuk membersihnya bukanlah satu perkara yang mudah. Tanpa kesungguhan dan ikhtiar segala kekotoran hati tidak mampu untuk dibersihkan. Apabila kita berjaya membersihkan kekotoran hati ini maka tempat bertapatnya kekotoranyang lalu mesti disemai dengan kejernihan. Apabila kita berjaya mencungkil dendam maka semailah kemaafan agar tapak yang pernah tumbuhnya dendam kesumat tidak ditumbuhi oleh sifat buruk yang lain, bila berjaya mencungkil kedengkian dan irihati semailah kasih sayang dan qanaah begitu juga bila berjaya mencungkil buruk sangka maka semailah Husnuz Zhan atau baik sangka agar keseluruhan hati itu bisa tumbuh sifat-sifat mahmudah yang diredhai tuhan.

•Benih mahmudah yang baru disemai mesti dijaga. Kerana terdapat banyak musuh yang cuba untuk merosakkannya. Apabila kita berjaya menjaganya dengan baik maka pokok mahmudah itu akan dapat terus hidup subur dan akhirnya akan lahirlah buah tajalli yang kita cari. Nikmat ketenangan merupakan satu daripada buah tajalli yang hanya dapat dikecapi oleh mereka yang berusaha mencapainya dan berjaya memperolehinya. Ianya tidak dapat digambar dengan lukisan dan tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata atau tulisan.•Ketenangan tidak mampu diperolehi dengan hanya menempel. Ketenangan perlu dicari.